silsilah tarekat syadziliyah tulungagung
Sebagaimanadalam silsilah tarekat Qadiriyah yang merujuk pada Ali dan Abdul Qadir Jaelani dan seterusnya adalah dari Nabi Muhammad saw, dari Malaikat Jibril dan dari Allah Swt. Tareqat Syadziliyah terutama menarik dikalangan kelas menengah, pengusaha, pejabat, dan pengawai negeri. Mungkin karena kekhasan yang tidak begitu membebani
SilsilahTarekat Syattariyah. Sebagaimana tarekat pada umumnya, tarekat syattariyah memiliki sanad atau silsilah para wasithahnya yang bersambungan sampai kepada Rasulullah SAW. Para pengikut tarekat ini meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW, atas petunjuk Allah SWT, menunjuk Ali bin Abi Thalib untuk mewakilinya dalam melanjutkan fungsinya sebagai
BABIII KONTEKS SOSIAL KEMUNCULAN TAREKAT SYADZILIYAH B. Dinamika Sosial yang Mempengaruhi Ajaran Tarekat Syadziliyah al-2. Lingkungan. 60 . Kami (Muhammad) di hari Furqaan, 22 Yaitu di hari bertemunya dua pasukan. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Awalkemunculan tarekat adalah pada abad ke-3 dan ke-4 H, yang sejalan dengan kemunculan tasawuf. Pada abad ke-5 Hijriyah atau 13 Masehi barulah muncul tarekat sebagai kelanjutan kegiatan kaum sufi sebelumnya. Hal ini ditandai dengan setiap silsilah tarekat selalu dihubungkan dengan nama pendiri atau tokoh-tokoh sufi yang lahir pada abad itu.
1komentar: Muhammad Husni Ginting mengatakan. Syeikh Abdul Halim Mahmud merupakan pengamal tarekat SYadzuliyah yang beliau ambil dari Syeikh Abdul Fatah Qadhi as-Sabalanja, Syeikh Abdul FAtah mengambil dari Syeikh Muhammad Abdul Wahab al-Husofy, beliau mengambil dari ayahandanya dari Syeikh Hasanain al-Husofy, silsilah tarekat ini di kenal juga dengan silsilah syazuliyah al-Husofiyah, kami
Rencontre Femme Pays De La Loire. Uzlah adalah mengasingkan diri dari pergaulan masyarakat atau khalayak ramai, untuk menghindarkan diri dari godaan-godaan yang dapat mengotori jiwa, seperti menggunjing, mengadu domba, bertengkar, dan memikirkan keduniaan. Dalam pandangan Syadziliyah, untuk mengamalkan tarekat seorang murid tidak harus mengasingkan diri uzlah dan meninggalkan kehidupan duniawi al-zuhud secara membabi buta. Suluk adalah suatu perjalanan menuju Tuhan yang dilakukan dengan berdiam diri di pondok atau zawiyah. Suluk di pondok pesulukan dalam tradisi tarekat Syadziliyah dipahami sebagai pelatihan diri training centre untuk membiasakan diri dan menguasai kata hatinya agar senantiasa mampu mengingat dan berdzikir kepada Allah, dalam keadaan bagaimana, kapan, dan dimanapun. Adapun amalan-amalan yang diajarkan tarekat Syadziliyah adalah membaca istighfar, membaca shalawat Nabi, membaca dzikir yang didahului dengan wasilah dan rabithah. Juga membaca hizib, antara lain hizb al-Asyfa’, hizib al-Aafi, atau al-autat, hizib al-Bahr, hizib al-Baladiyah, atau al-Birbihatiyah, hizib al-Barr, hizib an-Nasr, hizib al-Mubarak, hizib as-Salamah, hizib an-Nur, dan hizib al- Kahfi. Dari beberapa uraian tentang ajaran-ajaran dan amalan dalam tarekat Syadziliyah dapat disimpulkan bahwa ajaran-ajaran dan amalan dalam tarekat Syadziliyah itu adalah istighfar, shalawat Nabi, dzikir, wasilah dan rabithah, wirid, adab murid, hizib, zuhud, uzlah dan suluk. 4. Tarekat Syadziliyah di Pondok PETA Tulungagung Pondok yang dikenal dengan nama pondok PETA Pesulukan Thoriqot Agung itu merupakan sebuah pondok pesulukan zawiyah yang dirintis oleh Hadratusy Syaikh Al-Mukarom Romo Mustaqim bin Muhammad Husain. Perjuangan Syaikh Mustaqim dalam menegakkan nilai-nilai Islam ahl sunnah wal jamaah, yaitu dengan mengajarkan tarekat dan dzikir sirri diteruskan oleh putra beliau Abdul Djalil bin Mustaqim, setelah beliau wafat digantikan putranya yakni Charir Sholachuddin bin Abdul Djalil Musaqim. Tarekat Syadziliyah diterima oleh Syaikh Mustaqim bin Muhammad Husain dari Syaikh Abdur Razaq bin Abdillah, Termas, Pacitan pada sekitar tahun 1940. Rantai silsilah tarekat ini mulai dari Syaikh Sholchuddin bin Abdul Djalil sampai kepada Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili adalah sebagai berikut Syaikh Sholachuddin bin Abdul Djalil Mustaqim menerima baiat dari Syaikh Abdul Djalil bin Mustaqim dari Syaikh Mustaqim bin Husain dari Syaikh Abdurrazaq bin Abdillah at Turmusi dari Syaikh Ahmad, Ngadirejo, Solo dari Sayyidisy Syaikh Ahmad Nahrowi Muhtarom al Jawi tsummal Makky dari Sayyidisy Syaikh Muhammad Sholih al Mufti al Hanafi al Makky dari Sayyidisy Syaikh Muhammad Ali bin Thohir al Watri al Hanafi al Madani dari Sayyidisy Syaikh al Allamah asy Syihab Ahmad Minnatulloh al adawi asy Syabasi al Azhary al Mishry al Maliky dari Sayyidisy Syaikh al Arif Billah Muhammad al Bahiti dari Sayyidisy Syaikh Yusuf asy Syabasi adh Dhohiri dari Al Ustas Sayyid Muhammad ibnul Qosim al Iskandary al Ma’ruf Ibnush Shobagh dari Syaikh al Allamah Sayyid Muhammad bin Abdul Baqi’ az Zurqoni al Maliky dari Sayyidisy Syaikh an Nur Ali bin Abdurrahman al Juhri al Mishry al Maliky dari Sayyidisy Syaikh al Alamah Nurudin Ali bin Abi Bakri al Qorofi dari Syaikh al Hafidh al Burhan Jamaluddin Ibrahim bin Ali bin Ahmad al Qurosyi asy Syafi’i al Qolqosyandi dari Syaikh al Alamah asy Syihab Taqiyyuddin Abil Abbas Ahmad bin Muhammad bin Abu Bakar al Muqdisi asy Syahir bil Wasithi dari Syaikh al Alamah Shodruddin Abil Fatkhi Muhammad bin Muhammad bin Ibrahim al Maidumi al Bakry al Mishry dari Syaikh al Quthubuzzaman Sayyid Abul Abbas Ahmad bin Umar al-Anshori al Mursi dari Quthubul Muhaqqiqin Sulthonil Auliya Sayyidinasy Syaikh Abil Hasan Asy Syadzily. 37 D. Ajaran dan Amalan Tarekat Syadziliyah di Pondok PETA
Khalidiyah. Tarekat-tarekat inilah antara lain yang banyak berkembang di Jawa. Dari beberapa penjelasan tentang definisi tarekat di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa tarekat adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan tujuan untuk wushul sampai kepada-Nya. 2. Sejarah Tarekat Syadziliyah Nama pendirinya yaitu Abu Hasan Ali Asy-Syadzili, yang dalam sejarah keturunannya dihubungkan orang dengan keturunan dari Hasan anak Ali bin Thalib, dan dengan demikian juga keturunan dari Siti Fatimah anak perempuan dari Nabi Muhammad saw. Ia lahir di Amman, salah satu desa kecil, di Afrika, dekat desa Mensiyah, dimana hidup seorang wali sufi Abdul Abbas Al-Marsi, seorang yang tidak asing lagi namanya dalam dunia tasawuf, kedua desa itu terletak didaerah Maghribi. Syadzili lahir kira-kira dalam tahun 573 H. Orang yang pernah bertemu dengan dia menerangkan, bahwa Syadzili mempunyai perawakan badan yang menarik, bentuk muka yang menunjukkan keimanan dan keikhlasan, warna kulitnya yang sedang serta badannya agak panjang dengan bentuk mukanya yang agak memanjang pula, jari-jari langsing seakan- akan jari-jari orang Hijaz. Menurut Ibn Sibagh bentuk badannya itu menunjukkan bentuk seorang yang penuh dengan rahasia-rahasia hidup. Pendapat ini sesuai dengan pendapat Abul’Aza’im, ringan lidahnya, enak didengar ucapan-ucapannya, sehingga kalau ia berbicara, pembicaraannya itu mempunyai pengertian yang dalam. 28 28 Abu Bakar Aceh, Pengantar Ilmu Tarekat. Jakarta CV. Ramadhani, 1986, hal. 305 Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili adalah salah satu tokoh sufi abad ke tujuh Hiriyah yang menempuh jalur tasawuf searah dengan al-Ghazali, yakni suatu tasawuf yang berlandaskan kepada al- Qur’an dan al-Sunnah, mengarah pada asketisisme, pelurusan jiwa dan pembinaan moral. Menurut al-Syadzili, zuhud tidak berarti harus menjauhi dunia, karena pada dasarnya zuhud adalah mengosongkan hati dari selain Tuhan al-Syadzili sehingga tidak ada larangan bagi seorang salik untuk menjadi konglomerat, asalkan hatinya tidak tergantung pada harta yang dimilikinya. Sejalan dengan itu pula, bahwa seorang salik tidak harus memakai baju lusuh yang tidak berharga, yang akhirnya hanya akan menjatuhkan martabatnya. Walaupun al-Syadzili sebagai mursyid guru tarekat tarekat, diceritakan bahwa beliau adalah orang yang kaya raya secara aterial, tetapi tidak terbesit sedikitpun keinginan didalam hatinya terhadap harta dunia. 29 Syadzili termasuk salah seorang sufi yang luar biasa, seorang tokoh sufi terbesar, yang dipuja dan dipuji di antaranya oleh wali-wali kebatinan dalam kitab-kitabnya, baik karena kepribadiannya maupun karena fikiran dan ajaran- ajarannya. Hampir tidak ada kitab tasawuf yang tidak menyebutkan namanya dan mempergunakan ucapan-ucapan yang penuh dengan rahasia dan hikmah untuk mengutarakan sesuatu uraian atau pendirian. Tarekat Syadziliyah memulai keberadaannya di bawah salah satu dinasti al-Muwahhidun, yakni Hafsiyyah di Tunisia. Tarekat ini kemudian berkembang dan tumbuh subur di Mesir dan Timur dekat di bawah kekuasaan 29 M. Saifuddin Zuhri, Tarekat Syadziliyah Dalam Perspektif Perilaku Perubahan Sosial. Yogyakarta Teras, 2011, hal. 6 dinasti Mamluk. Dalam hal ini yang menarik, sebagaimana dicatat oleh Victor Danner dalam Sri Mulyati 30 , bahwa meskipun tarekat ini berkembang pesat di daerah Timur Mesir, namun awal perkembangannya adalah dari Barat Tunisia. Dengan demikian, peran daerah Maghrib dalam kehidupan spiritual tidak sedikit. 31 Sepeninggal al-Syadzili, kepemimpinan tarekat ini diteruskan oleh Abu al- Abbas al-Mursi yang ditunjuk langsung olehal-Syadzili. Nama lengkapnya adalah Ahmad ibn Ali al-Anshari al-Mursi, terlahir di Murcia, spanyol pada 616H-1219M, dan meninggal pada 686H1287M di Alexandria. Di kota kelahirannya itu, juga lahir sufi dan ulama terkenal Ibn al- Arabi dan Ibn Sab’in yang terakhir ini dilahirkan hanya beberapa tahun sebelum al-Mursi. Al- Mursi termasuk murid yang memiliki kualitas spiritual paling tinggi dibandingkan ikhwan-ikhwan yang lainnya. 32 Dari beberapa uraian diatas, maka penulis menarik kesimpulan bahwa tarekat Syadziliyah merupakan suatu aliran dalam tarekat yang didirikan oleh Syeikh Abu Hasan Al Asy-Syadzili. Beliau merupakan salah satu tokoh sufi pada abad ke tujuh Hijriyah yang menempuh jalur tasawuf searah dengan al- Ghazali, yakni suatu tasawuf yang berlandaskan pada al- Qur’an dan as-Sunnah dimana mengarah pada asketisisme, pelurusan jiwa, dan pembinaan moral. Tarekat Syadziliyah memulai keberadaannya di bawah salah satu dinasti al- 30 Sri Mulyati. Mengenal Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah Di Indonesia . Jakarta Prenada Media, 2004, hal. 65 31 Ibid ., hal. 65 32 Ibid ., hal. 67 Muwahhidun, yakni Hafsiyyah di Tunisia kemudian tumbuh subur di Mesir dan Timur dekat kekuasaan dinasti Mamluk. 3. Silsilah dalam tarekat Syadziliyah
sikapperilaku ketaqwaannya kepada Allah SWT, serta budi pekerti yang luhur. Dalam mencapai tujuan tersebut, pondok PETA melakukan beberapa usaha. Pertama, menyelenggarakan pendidikan formal dan non formal. Kedua, menyelenggarakan penelitian dan pengembangan yang menyangkut aspek kehidupan beraqidah, sosial, budaya, pendidikanpengajaran, kesehatan, ekonomi dan lingkungan hidup. Ketiga, menyelenggarakan penertiban dalam rangka penyampaian ide atau gagasan maupun pendapat para ahli tentang berbagai masalah pembangunan. Keempat, menyelenggarakan pusat pelayanan kesejahteraan dan kesehatan bagi masyarakat dengan mendirikan rumah sakit, poli klinik, dan rumah bersalin serta penampungan anak-anak yatim piatu yang terlantar dan masih banyak lagi usaha-usaha yang dilakukan untuk menunjang maksud dan tujuan. 1 2. Sejarah masuknya tarekat Syadziliyah di Tulungagung Tarekat Syadziliyah telah masuk ke Indonesia sejak satu tokoh yaitu Gus Dur, mengatakan bahwa Mbah Panjalu yang merupakan leluhur ulama di tanah Jawa adalah penganut tarekat Walisongo sebagian juga menganut tarekat Syadziliyah, seperti di Pekalongan dan Syadziliyah ini kemudian berkembang pesat di Jawa Timur tepatnya di Tulungagung. Tokoh yang sangat berpengaruh dalam mengembangkan tarekat Syadziliyah di Tulungagung adalah Syekh 1 Di peroleh dari arsip pondok PETA yang berupa laporan Kuliah Kerja Lapangan Islamologi tentang “Tarekat Syadziliyah di Pesulukan Thoriqot Agung PETA” Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Program Studi Arab Universitas Indonesia tahun 2013, hal. 49-51 Mustaqim bin Muhammad Husein bin Abdul Djalil. Beliau telah mendirikan pondok bernama PETA, yang hingga saat ini berdiri tegak di jantung kota Tulungagung. Syekh Kyai Mustaqim lahir pada tahun 1901 di desa Nawangan, kecamatan Kras, kabupaten Kediri. Sejak usia anak-anak, beliau bersama ayah dan bundanya bermukim di kota Tulungagung. Beliau juga merupakan teman dari Bung keunikan antara persahabatan kedua tokoh ini, mereka sama-sama lahir 1901 dan meninggal pada tahun 1970-an. Pada usia 13 tahun, Kyai Mustaqim dimasukkan di pesantren oleh orang tuanya keseorang ulama yang bernama Kyai Zarkasyi di desa Kauman, kota Tulungagung. Kyai Zarkasyi adalah salah satu ulama Tulungagung yang pernah beberapa kali dikunjungi Hasyim Asy ’ari dan ulama-ulama Tulungagung lainnya, seperti Raden Patah, Mangunsari, dan Kyai Qomarudin Kauman. Dari Kyai Zarkasyi itulah Kyai Mustaqim mendapatkan pelajaran berbagai ilmu-ilmu syariat, seperti ilmi-ilmu tentang fiqih, al- Qur’an, dan hadits. Di usia yang masih sangat belia itu pula Kyai mendapatkan karunia yang luar biasa dari Allah yaitu berupa dzikir sirri . Hati beliau selalu melafalkan kata “ Allah ” terus menerus tiada henti setiap waktu secara tidak disadari. Bahkan beliau pernah mencoba untuk menghentikan dzikir itu tetapi gagal. Dzikir ini menghindari diri dari sifat- sifat madzmumah , seperti iri, dengki, ujub , riya’, takabur, dan lain sebagainya. Di Jawa Timur, banyak pondok pesantren yang mengajarkan fiqih, sedangkan di Jawa, Barat banyak pondok pesantren yang mengajarkan tentang kesaktian. Seorang ulama merasa tidak sempurna jika tidak menguasai kedua ilmu tersebut sehingga ulama Jawa Timur belajar di pondok pesantren Jawa Barat dan Mustaqim juga mempelajari ilmu kesaktian tersebut. Kyai Mustaqim menikah dengan Halimatus Sa’diyah putri dari H. Rois. Setelah menikah, Kyai Mustaqim berdakwah dengan cara mengajarkan dzikir sirri melalui jurus-jurus silat dari Kyai Chudlori. Rumah istrinya tersebut yang menjadi cikal bakal pondok PETA yang merupakan pusat penyebaran tarekat Syadziliyah di Tulungagung. Jadi dapat dikatakan sejak tahun 1925 pondok PETA mulai didirikan. Saat itu Syekh Mustaqim men dapat gelar “pendekar Mustaqim”. Pada saat itu juga, beliau juga mengajarkan hizib autad atau hizib kahfi .Ilmu beladiri tersebut diajarkan bukan untuk berperang, tetapi untuk melawan hawa nafsu. Pada tahun 1945, beliau kedatangan seorang tamu agung dari pondok Termas, kabupaten Pacitan. Beliau bernama Kyai Abdur Rozaq bin Abdillah at Turmusy adik dari Syekh Hafidz Mahfudzb at Turmusy dan KH Dimyathi at Abdur Rozaq sendiri di daerah Pacitan dan sekitarnya lebih dikenal dengan panggilan Den kedatangan Kyai Abdur Rozaq ini bermula dengan adanya kunjungan salah satu murid Syekh Mustaqim yang bernama Asfaham ke pondok pesantren ke pondok pesantren Termas itu, Asfaham mengalami peristiwa yang dinamakan jadzab . Melihat itu, Kyai Abdur Rozaq begitu kagum dengan anak muda yang bernama Asfaham. Setelah kembali sadar dan pulih seperti sediakala, kemudian Asfaham ditanya oleh Kyai Abdur Rozaq tentang siapakah gurunya dan dibelajari apa saja oleh gurunya. Dijawab oleh Asfaham bahwa gurunya adalah Kyai Mustaqim dan dia di belajari dan diijazahi hizib kahfi . Hal itulah yang menjadikan Kyai Abdur Rozaq tertarik untuk berkunjung dan berguru kepada Kyai hari kemudian, Kyai Abdur Rozaq pergi ke Tulungagung dengan mengendarai kuda. Setelah sampai dihadapan Kyai Mustaqim, Kyai Abdur Rozaq kemudian memperkenalkana diri dan mengemukakan tujuan beliau datang kepada Kyai Mustaqim, yaitu untuk berguru. Mendengar perkataan Kyai Abdur Rozaq, Kyai Mustaqim mengatakan, “ nyuwun pangapunten Kyai, sebenarnya saya sudah lama mendengar nama besar panjenengan di Termas sana. Namun hari ini saya merasa kedahuluan. Oleh karena itu, saya mohon agar panjenengan berkenan untuk menerima saya sebagai murid panjenengan .” Kyai Abdur Rozaq menjawab, “ mboten Kyai, saya jauh-jauh datang ke sini adalah dengan satu tujuan yaitu untuk menimba ilmu dari panjenengan . ” Kyai Mustaqim tetap kepada pendiriannya yaitu agar Kyai Abdur Rozaq bersedia menerima beliau sebagai murid Kyai Abdur Rozaq. Cukup lama keduanya berdebat agar masing-masing menjadi murid. Akhirnya keduanya salig diam, dengan suara lembut dan kata-kata bijaksana Kyai Mustaqim berkata, “ya sudah kalau begitu kyai, sebagai penghormatan saya kepada seorang tamu, maka saya mengalah untuk menuruti keinginan panjenengan .” Kemudian Kyai Mustaqim memberikan ijazah wirid kepada Kyai Abdur Rozaq. Ada yang mengatakan bahwa wirid yang diijazahkan itu adalah hizib kahfi , tetapi ada pula yang mengatakan Bismillahilladzi laa yadhurrudan al Ghoniyyul Maani’u. Setelah Kyai Mustaqim mengajarkan Kyai Abdur Rozaq, kemudian Kyai Mustaqim menagih janji agar Kyai Abdur Rozaq bergantian menjadi guru bagi dirinya. Kemudian Kyai Abdur Rozaq besedia menjadi guru bagi Kyai Mustaqim. Kyai Abdur Rozaq meminta Kyai Mustaqim untuk memilih amalan dalam buku yang beliau bawa. Kemudian Kyai Mustaqim membuka halaman buku yang tepat berisi tarekat Syadziliyah. Kyai Abdur Rozaq kemudian mengajarkan amalan tarekat tersebut dan kemudian berpesan “Kyai tolong ini sampean amalkan disini karena tarekat ini akan berkembang disini.” Mulai dari situ tarekat Syadziliyah ini berkembang di Tulungagung. Kyai Mustaqim yang sebelumnya juga belajar tarekat Qadiriyah dan tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah juga tidak meninggalkan kedua tarekat sebelumnya itu. Sehingga di pondok PETA beliau mengajarkan tiga tarekat tersebut, meskipun tarekat Syadziliyah lebih diprioritaskan. 2 2 Di peroleh dari arsip pondok PETA yang berupa laporan Kuliah Kerja Lapangan Islamologi tentang “Tarekat Syadziliyah di Pesulukan Thoriqot Agung PETA” Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Program Studi Arab Universitas Indonesia tahun 2013, hal. 13-16. 3. Perkembangan tarekat Syadziliyah di Tulungagung
Suasana Pembaiatan Tarekat Syadziliyah Maulana Syekh Abdul Mun’im bin Abdul Aziz bin Al Ghumari didampingi Khodim Zawiyah Arraudhah Muhammad Danial Nafis kepada peserta Halaqoh Shufiyah Wa Khotmul Kitab di Zawiyah Arraudhah, Jalan Tebet Barat VIII, No 50, Jakarta Selatan, 11-14 Mei 2017. Kajian kitab Al Anwaru Qudsiyah dan Ta’rif Mu’tasi Bi Ahwali Nafsi karya Syekh Abdul Azis bin Muhammad bin Shidiq Al Ghumari Al Hasani QS Foto Sebagaimana tarekat muktabarah lainnya, tarekat Syadziliyah juga bersumber dari Rabb al-Izzah Rabb al-Alamin. Ajaran tarekat, atau jalan, atau cara, atau metode menuju kepada Allâh Swt tersebut kemudian disampaikan kepada Rasulullah Saw melalui malaikat Jibril As. Selanjutnya, oleh Rasulullah Saw metode itu lalu diajarkan kepada beberapa sahabat beliau. Oleh sahabat-sahabat beliau, tarekat kemudian diajarkan kepada para muridnya. Lalu, oleh muridnya itu kemudian diajarkan kepada muridnya pula. Demikian seterusnya, turun-temurun sampai akhirnya kepada Syaikh Abdus Salam bin Masyisy. Semenjak dari Rasulullah Saw sampai kepada Syaikh Abdus Salam, dalam kurun waktu sekitar 600 tahun, metode tersebut diajarkan dalam lingkup yang masih sangat terbatas. Tidak banyak orang yang bisa mengetahui dan mengenalnya. Di samping itu, selama itu pula ajaran tersebut masih belum memiliki nama atau sebutan. Selanjutnya, oleh Syaikh Abdus Salam, ajaran tersebut kemudian diajarkan kepada Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili. Setelah ajaran ini diterima oleh Syaikh Abu al-Hasan, lalu oleh beliau, selang beberapa tahun kemudian, ajaran ini dikembangkan dan disebarluaskan kepada masyarakat umum berikut dengan ajaran-ajaran tasawufnya. Oleh karena itu, di kemudian hari murid-murid beliau mengaitkan ajaran tarekat tersebut dengan nama beliau dengan sebutan tarekat Syadziliyah. Pada masa Syaikh Abu al-Hasan, terutama setelah beliau bermukim di Mesir, ajaran tarekat ini berkembang dengan amat pesat. Tarekat ini pun menyebar ke seluruh penjuru dunia. Sampai kini, tarekat ini banyak memiliki pengikut di sebagian besar negara-negara di Afrika Utara, Kenya, Tanzania Tengah, sampai negara-negara di Amerika Barat dan Amerika Utara, serta negara-negara di Asia, termasuk Srilanka, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Sepeninggal Syaikh Abu al-Hasan, kekhalifahan tarekat ini kemudian dilanjutkan oleh murid terkemuka beliau bernama Syaikh Syihabuddin Abu al-Abbas Ahmad bin Umar al-Anshari al-Mursi al-Syadzili atau lebih dikenal dengan nama Syaikh Abu al-Abbâs al-Mursî w. 686 H./1288 M.. Di masa hidupnya, Syaikh Abu al-Abbas al-Mursi banyak memiliki murid masyhur yang amat berpengaruh dalam dunia Islâm, di antaranya Shahibul Hikam Syaikh Ibnu Atha’illah as-Sakandari w. tahun 709 H./1309 M., Syaikh Yaqut al-Arsyi w. 732 H./1331 M., Syaikh Abu al-Fath al-Maidumi, Shahibul Burdah Syaikh Muhammad bin Sa’id al-Bushiri wafat 649 H./1295 M., dan Syaikh Najmuddin al-Isfahani w. 721 H./1321 M.. Tiga nama pertama di atas, yaitu Syaikh Ibnu Atha’illah, Syaikh Yaqut al-Arsyi, dan Syaikh Abu al-Fath al-Maidumi di kemudian hari menggantikan kedudukan Syaikh Abu al-Abbâs al-Mursî sebagai khalifah tarekat Syadziliyah. Tarekat Syadziliyah yang dibawa oleh Syaikh Ibnu Atha’illah, secara umum lebih banyak berkembang ke wilayah barat Mesir, mulai dari kota Iskandaria sampai ke negara Libya, Aljazair, Tunisia, dan Maroko. Selain itu juga ke sebagian besar negara-negara berpenduduk muslim lainnya di daerah Afrika Barat, hingga sampai ke Spanyol dan beberapa negara lainnya di Eropa dan Amerika. Sedangkan perkembangan tarekat Syadziliyah yang dibawa Syaikh Yaqut al-Arsyi lebih mendominasi wilayah dalam negeri Mesir sendiri dan negara-negara di sebelah selatannya, seperti Sudan, Ethiopia, Kenya, Somalia, dan Tanzania, hingga ke daerah timur Mesir, antara lain Yordania, Syiria, Turki, Irak, Iran, ke utara sampai ke semenanjung Balkan. Sementara itu, dakwah Syaikh al-Maidumi mendapat sambutan hangat di wilayah jazirah Arab, terutama di dua kota suci, Mekah dan Madinah. Justru dari kedua kota inilah pada akhirnya tarekat Syadziliyah menyebar dengan pesat ke negara-negara timur, mulai dari India, Pakistan, Afganistan, hingga sampai ke Malaysia dan Indonesia. Dari jalur Syaikh al-Maidumi inilah silsilah tarekat Syadziliyah sampai ke Indonesia, Manaqib Sang Quthub Agung, halaman 77-79. Pokok-pokok Ajaran Tarekat Syadiliyah 1. Taqwa kepada Allâh Swt. lahir batin, yaitu secara konsisten istiqamah, sabar, dan tabah selalu menjalankan segala perintah Allâh Swt. serta menjauhi semua larangan-Nya dengan berlaku wara’ berhati-hati terhadap semua yang haram, makruh, maupun syubhat, baik ketika sendiri maupun pada saat di hadapan orang lain. 2. Mengikuti sunnah-sunnah Rasûlullâh Saw. dalam ucapan dan perbuatan, yaitu dengan cara selalu berusaha sekuat-kuatnya untuk senantiasa berucap dan beramal seperti yang telah dicontohkan Rasûlullâh Saw., serta selalu waspada agar senantiasa menjalankan budi pekerti luhur akhlakul karimah. 3. Mengosongkan hati dari segala sesuatu selain Allâh Swt., yaitu dengan cara tidak mempedulikan makhluk dalam kesukaan atau kebencian mereka diiringi dengan kesabaran dan berpasrah diri kepada Allâh Swt. tawakkal. 4. Ridha kepada Allâh baik dalam kekurangan maupun kelebihan, yaitu dengan cara senantiasa ridha, ikhlas, qana’ah tidak rakus, nrimo ing pandum Jawa, dan tawakkal dalam menerima pemberian Allâh Swt., baik ketika pemberian itu sedikit atau banyak, ringan atau berat, maupun sempit atau lapang. 5. Kembali kepada Allâh dalam suka maupun duka, yaitu dengan cara secepatnya berlari kembali kepada Allâh Swt. dalam segala keadaan, baik dalam suasana suka maupun duka. Kelima pokok tersebut bertumpu pada lima pokok berikut ini Memiliki semangan tinggi, karena dengan semangat yang tinggi, maka akan naik pula tingkat derajat terhadap segala yang haram, karena barang siapa yang meninggalkan segala yang diharamkan, maka Allâh Swt. akan menjaga pula dalam khidmat/bakti sebagai hamba, karena barang siapa yang menjaga kebaikan dan kebenaran dalam taatnya kepada Allâh Swt., niscaya akan tercapailah tujuannya dalam menuju kepada kebesaran dan segala yang difardhukan, karena barang siapa yang melaksanakan tugas kewajibannya dengan baik, niscaya akan bahagia dan menjunjung tinggi nikmat-nikmat dari Allâh Swt., karena barang siapa yang menjunjung tinggi nikmat Allâh, kemudian mensyukurinya, maka dia akan menerima tambahan-tambahan nikmat yang lebih besar. Kaifiyah Zikir Syadziliyah Membaca surat al-Fatihah dan ditujukan kepada Nabi Muhammad surat al-Fatihah dan ditujukan kepada Syaikh Abu al-Hasan al-SyadziliMembaca surat al-Fatihah dan ditujukan para silsilah guru mursyid tarekat SyadziliyahBeristighfar sebanyak 100 kaliMembaca shalawat Syadziliyah sebanyak 100 kali. Berikut ini bacaan shalawat tersebut اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا بِقَدْرِ عَظَمَةِ ذَاتِكَ فِيْ كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ Membaca Lâ Ilâha Illalâh sebanyak 100 kalimat berikut ini sekali. سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Selanjutnya membaca do’a berikut ini بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِيْنَ. سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ . يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْأَفَاتِ، وَتَقْضِيْ لَنَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِى الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ. اللهم أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ أَعْطِنِيْ مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ. اللهم افْتَحْ لِيْ بِفُتُوْحِ الْعَارِفِيْنَ. اللهم اخْتِمْ لَنَا بِخَاتِمَةِ السَّعَادَةِ. وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ سَبَقَتْ لَهُمُ الْحُسْنَى وَزِيَادَاتِ . بِجَاهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذِي الشَّفَاعَةِ. وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ ذَوِى السِّيَادَةِ. وَسَيِّدِنَا أَبِى الْعَبَّاسِ الْخَضِرِ بَلْيَا بْنِ مَلْكَانِ ذِي الْاِسْتِقَامَةِ. سَيِّدِنَا الْغَوْثِ الْأَعْظَمِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلَانِيْ ذِي الْكَرَامَةِ. رَبَّنَا اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. الفاتحة Durrah al-Sâlikîn, tanpa tahun, halaman 8-12 Di samping amalan zikir di atas, dalam tarekat Syadziliyah juga diajarkan beberapa bacaan hizb wirid seperti hizb Nashr, hizb Bahr, dan hizb Nawawi. Sumber
silsilah tarekat syadziliyah tulungagung